Bahas ADHD

ADHD

ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Gangguan ini telah terlihat sejak masa kanak-kanak, dan dapat dianalisa langsung oleh ahli perkembangan anak (psikolog). Gangguan ini berdampak pada cara anak berpikir, bertindak dan merasa.

Penyebab
Hingga saat ini penyebab ADHD belum dapat dipastikan. Terdapat berbagai teori tentang penyebab ADHD, sebuah teori mengasumsikan  konsumsi gula atau zat aditif yang berlebihan dalam makanan sebagai penyebabnya. Sedangkan teori yang lain menyatakan bahwa faktor genetis adalah penyebab utama.

Para ahli masih meneliti bagian otak tertentu dan zat-zat yang mempengaruhinya.

Gejala
ADHD dapat ditengarai sejak anak berusia sangat kecil. Pada bayi, gejala yang nampak, adalah:

  • Terlalu banyak bergerak, sering menangis, dan pola tidurnya buruk
  • Sulit makan/minum
  • Selalu kehausan
  • Cepat marah/sering mengalami temper tantrum
Pada anak balita, gejala ADHD yang kerap terlihat, adalah:

  • Sulit berkonsentrasi/memiliki rentang konsentrasi yang sangat pendek
  • Sangat aktif dan selalu bergerak
  • Impulsif
  • Cenderung penakut
  • Memiliki daya ingat yang pendek
  • Terlihat tidak percaya diri
  • Memiliki masalah tidur dan sulit makan
  • Sangat cerdas, namun prestasi belajar tidak prima.

Tidak semua anak yang mengalami ADHD terlihat memiliki gejala ini, karena sangat tergantung pada tingkat ADHD yang diidap.

ADHD

ADHD ( attention deficit hyperactivity disorder)
Gangguan perkembangan perilaku dan hiperaktifitas

Defenisi

ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah, suka meletup-letup, aktifitas berlebihan, dan suka membuat keributan

Epidemiologi
Angka kejadian DHD di seluruh dunia diperkirakan mencapai hingga lebih dari 5 %. Dimana dilaporkan lebih banyak terdapat pada laki-laki dibandingkan dengan wanita. Di amerika penelitian menunjukan kejadian ADHD mencapai hingga 7 %

Patogenesis
Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD. Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya (autisme), beberapa faktor yang berperan dalam timbulnya ADHD adalah faktor genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak saat perinatal, Tingkat kecerdasan (IQ), terjadi disfungsi metabolism, hormonal, lingkungan fisik dan sosial sekitar, asupan gizi, dan orang-orang dilingkungan sekitar termasuk keluarga.
Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmitter dopamine dan epinephrine. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki resiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD.
Terori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmitter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas diri.
Beberapa faktor resiko yang meningkatkan terjadinya  ADHD.

  • Kurangnya Deteksi dini
  • Gangguan pada masa kehamilan (infeksi, genetic, keracuanan obat dan alkohol, rokok dan stress psikogenik)
  • Gangguan pada masa persalinan (premature, postmatur, hambatan persalinan, induksi, kelainan persalinan)

Gejala Klinis
Gejala yang timbul dapat bervariASI mulai dari yang ringan hingga yang berat, gejala ADHD sudah dapat dilihat sejak usia bayi, gejala yang harus dicermati adalah sensitive terhadap suara dan cahaya, menangis, suka menjerit dan sulit tidur. Waktu tidur yang kurang sehingga bayi seringkali terbangun. Sulit makan ASI dan minum ASI. Tidak senang digendong, suka membenturkan kepala dan sering marah berlebihan. Keluhan yang terlihat pada anak yang lebih besar adalah, tampak canggung, sering mengalami kecelakaan, perilaku berubah-ubah, gerakan konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak-anak lainnya, kurang konsentrASI, tidak bisa diam, mudah marah, nafsu makan buruk, koordinASI mata dan tangan tidak baik, suka menyakiti diri sendiri dan gangguan tidur.
Untuk mempermudah diagnosis pada ADHD harus memiliki tiga gejala utama yang nampak pada perilaku seorang anak yaitu:

  • Inatensi

Kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian

  • Hiperaktif

Perilaku yang tidak bisa diam

  • Impulsive

Kesulitan untuk menunda respon (dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak sabar)

Tatalaksana
Terapi yang diberikan untuk tatalaksana pASIen ADHD harus dilaksanakan secara menyeluruh, dimulai dari EdukASI dengan keluarga, terapi perilaku hingga penatalaksanaan dengan obat-obatan farmASI. Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah

  • Terapi Obat-obatan

Terapi penunjang terhadap impuls-impuls hiperaktif dan tidak terkendelai, biasanya digunakan antidepresan seperti Ritalin, Dexedrine, desoxyn, adderal, cylert,buspar, clonidine

  • Terapi nutrisi dan diet

Keseimbangan diet karbohidrat  protrein

  • Terapi biomedis

Suplemen nutrisi, defisiensi mineral, dan gangguan asam amino

Latar Belakang
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan inattention (gangguan pemusatan perhatian dan gangguan konsentrasi) , impulsif (berbuat dan berbicara tanpa memikirkan akibatnya), dan hiperaktif yang tidak sesuai dengan umurnya. Keadaan ini dijumpai pada 4-12% di antara anak sekolah dan sering ditemukan pada laki-laki.

Gejala ADHD harus terlihat di berbagai tempat yang berbeda, misalnya di rumah, di sekolah, di tempat rekreasi, dan lainnya. Gejala ADHD biasanya sedemikian beratnya sehingga tidak dapat ditoleransi oleh orang tua, guru, dan temannya. Akibat perilakunya yang agresif, impulsif, dan tidak mengikuti peraturan, sering kali mereka dijauhi oleh teman-temannya. Kondisi ini membuat mereka kehilangan rasa percaya diri, menarik diri, dan depresi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30-80% kasus ADHD menetap pada masa remaja, bahkan sampai dewasa. Bila menetap sampai remaja, dapat memunculkan masalah lain seperti kenakalan remaja, gangguan kepribadian anti-sosial, dan cenderung terlibat penyalahgunaan NAPZA. Orang dewasa dengan ADHD sering bertengkar dengan pimpinannya, sering pindah pekerjaan, dan dalam melaksanakan tugasnya seringkali terlihat tidak tekun.

Diagnosis ADHD tidak dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium atau alat kedokteran, sekalipun wawancara terhadap orang tua merupakan hal penting. Selain itu, diperlukan laporan dari sekolah mengenai gangguan tingkah laku, kesulitan belajar, dan kurangnya prestasi akademis oleh gurunya.

Penanganan ADHD perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu dalam suatu tim kerja yang terdiri dari dokter spesialis anak, psikiater, dokter spesialis saraf, psikolog, pendidik, dan pekerja sosial. Penanganan ADHD memerlukan evaluasi jangka panjang dan berulang untuk dapat menilai keberhasilan terapi. Pe- nanganan ADHD biasanya berupa terapi obat, terapi perilaku, dan perbaikan lingkungan.

Penegakan diagnosis ADHD dan autisme memang sering membingungkan orangtua, pendidik, bahkan para ahli/peneliti. Meskipun ada banyak versi dan referensi yang membahas tentang keduanya, kami bahas sebagian saja yang dianggap praktis dan up-to-date.

Mari kita mulai dari ADHD terlebih dahulu, setelah itu kami bahas tentang autisme.

Kepanjangan ADHD
Attention Deficit Hyperactivity Disorder.

Pengertian
Gangguan perkembangan mental (developmental disorder) yang ditandai dengan adanya gangguan pemusatan perhatian dan tingkah laku yang hiperaktif.

Etiologi (Penyebab)
1. Faktor lingkungan/psikososial, seperti:
a. Konflik keluarga.
b. Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai.
c. Jumlah keluarga yang terlalu besar.
d. Orang tua terkena kasus kriminal.
e. Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat).
f. Anak yang diasuh di penitipan anak.
g. Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok saat hamil, dan alkohol.

2. Faktor genetik
Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p.

3. Gangguan otak dan metabolisme
a. Trauma lahir atau hipoksia yang berdampak injury pada lobus frontalis di otak.
b. Pengurangan volume serebrum.
c. Gangguan fungsi astrosit dalam pembentukan dan penyediaan laktat serta gangguan fungsi oligodendrosit.

Gambaran Klinis
1. Gangguan pemusatan perhatian (inattention)
a. Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas.
b. Mainan, dll sering tertinggal.
c. Sering membuat kesalahan.
d. Mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara).

e. Sulit menyelesaikan tugas atau pekerjaan sekolah.

2. Hiperaktivitas
a. Banyak bicara.
b. Tidak dapat tenang/diam, mempunyai kebutuhan untuk selalu bergerak.
c. Sering membuat gaduh suasana.
d. Selalu memegang apa yang dilihat.
e. Sulit untuk duduk diam.
f. Lebih gelisah dan impulsif dibandingkan dengan mereka yang seusia.

3. Impulsivity
a. Sering mengambil mainan teman dengan paksa.
b. Tidak sabaran.
c. Reaktif.
d. Sering bertindak tanpa dipikir dahulu.

4. Sikap menentang

a. Sering melanggar peraturan.
b. Bermasalah dengan orang-orang yang memiliki otoritas.
c. Lebih mudah merasa terganggu, mudah marah (dibandingkan dengan mereka yang seusia).

5. Cemas

a. Banyak mengalami rasa khawatir dan takut.
b. Cenderung emosional.
c. Sangat sensitif terhadap kritikan.
d. Mengalami kecemasan pada situasi yang baru atau yang tidak familiar.
e. Terlihat sangat pemalu dan menarik diri.

6. Problem sosial

a. Hanya memiliki sedikit teman.
b. Sering memiliki rasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Gambaran klinis di atas senada dengan rekomendasi dari AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS (2000) tentang ADHD adalah sbb:

* Pada anak berusia 6-12 tahun dengan:

1. inattention,
2. hyperactivity,
3. impulsivity,
4. academic underachievement,
5. behavior problems,

Maka dokter sebaiknya menyiapkan evaluasi untuk ADHD.

Sekadar tambahan, pada sebagian anak yang mengalami gangguan perilaku, terdapat komorbid atau tumpang tindih dengan gangguan lainnya (Desvi Yanti, 2005)

Komorbiditas biasanya juga terjadi dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders). Szatmari, Offord, dan Boyle (dalam Grainger 2003) menyebutkan sebanyak 20-40% anak penderita ADHD juga didiagnosis mengalami gangguan perilaku. Sejalan hal ini, Stewart, Cummings, Singer, dan DeBlois (dalam Grainger, 2003) menemukan bahwa 3 dari 4 anak dengan gangguan perilaku agresif ternyata juga hiperaktif, dan 2 dari 3 anak hiperaktif juga mengalami gangguan perilaku.

Secara akademis, anak yang mengalami masalah dengan perilaku biasanya mengalami kesulitan untuk dididik di lingkungan kelas yang “tradisional” sehingga prestasi akademiknya rendah dan mereka seringkali didiagnosis mengalami kesulitan belajar. Riset juga menunjukkan gangguan perilaku berhubungan dengan tingkat membolos dan drop out (DO) dari sekolah (Jimerson, et.al., 2002).

Riwayat yang Diduga ADHD:
1. Masa baby – infant
– Anak serba sulit
– Menjengkelkan
– Serakah
– Sulit tenang
– Sulit tidur
– Tidak ada nafsu makan

2. Masa prasekolah
– Terlalu aktif
– Keras kepala
– Tidak pernah merasa puas
– Suka menjengkelkan
– Tidak bisa diam
– Sulit beradaptasi dengan lingkungan

3. Usia sekolah
– Sulit berkonsentrasi
– Sulit memfokuskan perhatian
– Impulsif

4. Adolescent
– Tidak dapat tenang
– Sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat
– Tidak konsisten dalam sikap dan penampilan

Penatalaksanaan
1. Farmakoterapi
a. Methylphenidate
b. Amphetamine
c. Atomoxetine
d. Pemoline
e. Nortriptyline

2. Terapi behaviour
Terapi cognitive behaviour untruk membantu anak dengan ADHD untuk beradaptasi skill dan memperbaiki kemampuan untuk memecahkan masalah.

3. Kombinasi 1 dan 2

4. Rutin komunitas care

Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan tentang autisme.

Menurut Adriana S. Ginanjar (2008) di dalam presentasi “Penanganan Terpadu Bagi Anak Autis”:

*  Autisme pertama kali diteliti oleh Leo Kanner (1943) yang mengamati 11 anak dengan ciri-ciri khusus. Disimpulkan bahwa terdapat 2 ciri penting anak autis adalah:

1. Extreme aloness
2. Keinginan untuk mempertahankan kesamaan.
*  Berdasarkan DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) autis merupakan salah satu Pervasive Developmental Disorder.

* Tiga ciri utama autisme:

1. Gangguan interaksi sosial,
2. Gangguan komunikasi,
3. Pola tingkah laku/minat yang repetitif dan stereotip.
Gejala di atas telah muncul sebelum anak berusia 3 tahun.

Berikut ini penjelasannya:

1. Gangguan Interaksi Sosial

• Gangguan yang jelas pada perilaku non-verbal (kontak mata terbatas, ekspresi wajah datar, tidak menoleh jika dipanggil).
• Tidak mau bermain dengan teman sebaya dengan cara yang sesuai (wajar).
• Tidak mau (enggan) berbagi minat dengan orang lain.
• Kurang mampu melakukan interaksi sosial timbal-balik.

2. Gangguan Komunikasi

• Terlambat bicara atau tidak bisa bicara tanpa kompensasi penggunaan gesture (isyarat, gerak-bahasa tubuh).
• Mereka yang bisa bicara biasanya tidak dapat memulai dan mempertahankan percakapan.
• Penggunaan bahasa yang berulang, stereotipik atau tidak dapat dimengerti

3. Perilaku dan Minat yang Terbatas

•Minat yang terbatas dan abnormal dalam intensitas dan fokus.
• Terikat secara kaku pada ritual yang kelihatannya tidak memiliki fungsi khusus.
• Gerakan yang stereotipik dan berulang (flapping, gerakan jari-jari, bertepuk tangan, menyentuh benda-benda, rocking)
• Preokupasi pada bagian dari benda.

Demikian penjelasan kami. Semoga bermanfaat. Jika ada hal lebih lanjut yang ingin diketahui/ditanyakan, silakan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, dokter psikiater anak, dokter, atau psikolog terdekat di kota Anda.

The last but not least, mutiara kata berikut ini perlu kita renungkan bersama:
Learning without thinking is useless, thinking without learning is dangerous.
Belajar tanpa berpikir tiada guna. Berpikir tanpa belajar adalah berbahaya.
(Confucius, 551-478 SM)

Dr. Dito Anurogo
Penemu Hematopsikiatri
Konsultan Kesehatan di http://www.netsains.com
foto:hinduonnet.com

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan gangguan kesehatan jiwa yang sering terjadi pada anak. Anak ADHD sulit mempertahankan atensi (inatentive), hiperaktif, dan impulsif- sering pula mengganggu kawan-kawan. Sdr. Ridwan.
Terima Kasih atas pertanyaannya.

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan gangguan kesehatan jiwa yang sering terjadi pada anak. Anak ADHD sulit mempertahankan atensi (inatentive), hiperaktif, dan impulsif- sering pula mengganggu kawan-kawan.

ADHD tidak hanya terdapat pada anak, tetapi juga pada remaja dan orang dewasa, karena dalam banyak kasus kelainan ini menetap.

Orang inatentive, mudah beralih perhatian, tidak detail, sering kehilangan atau melupakan sesuatu, kurang sadar mengenai apa yang terjadi di sekitarnya.

Orang hiperaktif tidak sanggup duduk diam, bicara tanpa henti, merasa tidak tenang, sulit menunggu.

Orang impulsif tidak berpikir sebelum bertindak, mengeluarkan komentar yang tidak tepat, menyela orang lain yang sedang bicara, atau berlari ke jalanan tanpa melihat sekelilingnya.

Penderita ADHD menunjukkan berbagai perilaku yang khas. Perilaku ini hampir selalu tampil sebelum umur tujuh tahun, menetap untuk waktu yang lama. Untuk memastikan diagnosis ADHD, perilaku yang menyimpang itu harus terjadi pada berbagai keadaan, bukan hanya respons sesaat.

Penyebab ADHD yang tepat belum diketahui dengan jelas, sering dianggap \’disfungsi otak minimal\’, karena percaya ada kerusakan ringan pada otak. Mereka menemukan bahwa struktur yang menghubungkan kedua belahan otak dan daerah yang mengendalikan ingatan (memori) serta emosi berukuran lebih kecil pada penderita ADHD.

Apabila ada anak ADHD di kelasnya, guru seharusnya memberi tempat duduk berdekatan dengannya. Anak harus mendapatkan perhatian pribadi, dia harus dijauhkan dari setiap hal yang dapat mengalihkan perhatiannya.

Tugas pada anak harus dibagi menjadi sejumlah tahap kecil tanpa diberi batas waktu yang ketat, dan harus divariasi agar perhatian anak terjaga.

Apabila perilakunya membaik, beri tahu anak itu disertai dengan reward untuk meningkatkan harga dirinya. Pada saat ini ada beberapa obat yang dapat membantu ADHD.

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2008-06-16 10:39:44
Oleh : AFINI DWINASTARY (NIM 17503021), Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2008, dengan 7 file

ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit

Hiperactivity Disorder. Merupakan salah satu gangguan dari kelainan otak disertai hiperaktifitas. ADHD dapat terdeteksi dari umur 3-7 tahun. Deteksinya dilakukan secara intensif karena terjadi tumpang tindih antar gejala yang terlihat. Pada dasarnya anak ADHD terlihat normal, tidak ada kelainan fisik padanya. Berbeda dengan autis, anak ADHD dapat disembuhkan. Melalui rehabilitasi medis (terapi), pengobatan medis, kemudian penyembuhan alternatif seperti balur, Brain Gym, olahraga ataupun bermain musik. Saat ini banyak yayasan dan sekolah khusus dibangun pemerintah sebagai wadah pendidikan serta tempat penyedia sarana terapi bagi anak-anak yang mengalami ADHD. Anak ADHD mengalami kesulitan untuk fokus dan berlaku berlebihan (hiperaktif) yang dapat mengganggu teman-temannya. Melihat dari permasalahan tersebut, maka pada proyek tugas akhir ini, penulis ingin memberikan solusi dalam penyembuhan anak ADHD melalui metode Brain Gym yang dipercaya dapat memberikan efek baik kepada anak ADHD. Metode yang digunakan dari Brain Gym adalah metode untuk latihan koordinasi otak. Latihan koordinasi otak ini ditujukan untuk melatih fokus anak ADHD. Latihan koordinasi ini terdiri dari kegiatan menjaga keseimbangan (“the rocker”), gerak silang (“cross crawl”), dan gerak mendorong (“calf pump”). Namun, Brain Gym saat ini dilakukan tanpa menggunakan alat. Sulit sekali mengajak anak ADHD melakukan Brain Gym karena mereka tidak mau diam dan sulit mengikuti gerakan instruktur dengan baik. Oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang dapat menarik perhatian anak ADHD agar mereka mau melakukan Brain Gym. Dalam proyek tugas akhir ini, penulis membuat produk yang secara tidak langsung dapat membuat anak berlatih koordinasi yang secara garis besar diterapkan melalui metode Brain Gym. Produk juga memiliki fungsi untuk relaksasi. Relaksasi memang bermanfaat untuk mengatasi hiperaktifitas anak ADHD. Biasanya relaksasi pada anak ADHD dilakukan dengan cara memijat anak ADHD yang posisi tubuhnya tengkurap pada sebuah bola besar. Hal ini menjadi analisa yang dapat mempengaruhi bentuk produk.

Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADD, ADHD) DEFINISI

Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADD, ADHD)adalah perhatian buruk atau pendek dan impulsiv tidak sesuai pada umur anak; beberapa anak juga menunjukkan hiperaktif.

Walaupun ada cukup banyak kontroversi tentang timbulnya, ditaksir ADHD itu mempengaruhi 5 hingga 10% dari anak dengan usia sekolah dan didiagnosa 10 kali lebih sering pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Banyak ciri-ciri ADHD sering terlihat sebelum usia 4 dan tanpa kecuali sebelum usia 7, tetapi mereka mungkin tidak mengganggu secara signifikan prestasi akademis dan fungsi sosial sampai usia sekolah menengah. ADHD adalah dulunya disebut “gangguan kurangnya perhatian”; tetapi, kejadian yang biasa terjadi hiper-aktivitas pada anak terkena adalah benar-benar perpanjangan fisik dari kurangnya perhatian menyebabkan perubahan istilah sekarang.

PENYEBAB

ADHD bisa diwarisi. Penelitian terkini menunjukkan bahwa gangguan disebabkan oleh kelainan di neurotransmitters (bahan yang meneruskan gerak impuls syaraf dalam otak). Gejala ADHD bervariasi dari ringan hingga parah dan bisa menjadi dibesar-besarkan atau menjadi masalah di lingkungan tertentu, seperti di rumah anak atau di sekolah. Keterbatasan cara hidup sekolah dan organisasi membuat ADHD menjadi masalah, sedangkan pada generasi sebelumnya, gejala mungkin tidak mengganggu secara signifikan fungsi anak karena pembatasan seperti itu adalah sering sangat sedikit. Walaupun beberapa gejala ADHD juga terjadi pada anak tanpa ADHD, mereka lebih sering dan kuat pada anak dengan ADHD.

GEJALA

ADHD adalah terutama bermasalah pada perhatian terus-menerus, konsentrasi, dan ketetapan tugas (kemampuan untuk menyelesaikan tugas). Anak juga mungkin terlalu aktif dan gegabah. Banyak anak prasekolah cemas, mempunyai masalah yang berhubungan dan saling mempengaruhi, dan bertingkah laku dengan kurang baik. Mereka nampak tak penuh perhatian. Mereka mungkin tidak bisa diam dan menggeliat. Mereka mungkin tak sabar dan menjawab dengan kacau. Selama masa kecil nanti, anak seperti itu mungkin menggerakkan kaki mereka dengan resah, bergerak dan mengangkat-angkat tangan mereka, berbicara secara sembarangan, lupa dengan mudah, dan mereka mungkin tidak teratur. Mereka secara umum tidak agresif.

Sekitar 20% dari anak dengan ADHD mempunyai ketidakmampuan belajar dan sekitar 80% mempunyai masalah akademis. Kerjanya mungkin berantakan, dengan kesalahan serampangan dan ketiadaan pemikiran yang dipertimbangkan. Anak yang terkena sering bertingkah laku seolah-olah pikiran mereka di tempat lain dan mereka tidak mendengarkan. Mereka sering tidak melaksanakan sesuai permintaan atau menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan, atau kewajiban lain. Seringkali ada satu tugas yang tak selesai dari yang lain.

Sekitar 40% dari anak terkena mungkin mempunyai persoalan dengan penghargaan diri sendiri, depresi, kegelisahan, atau penentangan kepemilikan sampai usia mereka mencapai masa remaja. Sekitar 60 % anak muda mempunyai masalah seperti itu sewaktu marah, dan kebanyakan anak yang lebih tua mempunyai toleransi rendah terhadap frustrasi.

Tanda ADHD

Semua tanda belum tentu sebagai didiagnosa Attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Tetapi, tanda kurangnya perhatian selalu harus ada untuk diagnosa.Tanda harus ada di dua atau lebih tempat (misalnya, rumah dan sekolah) dan harus mengganggu masalah sosial atau fungsi akademis.

  • Tanda-tanda tidak perhatian.
    • Sering lalai memberi perhatian seksama pada detail.
    • Mempunyai kesukaran mempertahankan perhatian pada kerja dan bermain.
    • Tidak tampak mendengarkan kalau berbicara secara langsung.
    • Sering tidak melaksanakan perintah dan lalai menyelesaikan tugas.
    • Sering mempunyai kesukaran melakukan tugas dan aktivitas.
    • Sering menghindar, sebel, atau enggan untuk terlibat dalam tugas yang memerlukan usaha mental terus-menerus.
    • Sering kehilangan barang.
    • Dengan mudah dialihkan dengan hal yang tak ada hubungannya dengan rangsangan.
    • Sering pelupa.
  • Tanda-tanda hiperaktiv
    • Sering memain-mainkan tangan atau kaki atau menggeliat.
    • Sering meninggalkan tempat duduk di ruang kelas dan tempat lainnya.
    • Sering berlari kesana-kemari atau merambat naik seacara berlebihan.
    • Sulit untuk bermain atau terlibat dalam aktivitas yang diam.
    • Sering bergerak atau bertingkah seolah-olah digerakkan oleh mesin.
    • Sering berbicara berlebihan.
  • Tanda-tanda impulsiv
    • Sering mengucapkan jawaban tanpa berpikir sebelum pertanyaan komplit.
    • Sering mempunyai kesukaran menunggunya giliran.
    • Sering menyela atau mengganggu orang lain.

ADHD: Epidemi atau Over-Diagnosa?

Meningkatnya jumlah anak yang didiagnosa ADHD. Tetapi, ada peningkatan perhatian dokter dan orang-tua dimana banyak anak salah didiagnosa. Derajat aktivitas tinggi mungkin sebenarnya normal dan menjadi pernyataan yang dilebih-lebihkan dari tingkah laku masa kecil yang normal. Dengan kata lain, hal itu dapat bervariasi penyebabnya, termasuk gangguan emosional atau kelainan fungsi otak, seperti ADHD.

Biasanya anak usia 2 tahun aktif dan jarang bisa diam. Derajat aktivitas dan suara tinggi biasa sampai usia 4 tahun. Pada kelompok umur ini, kelakuan seperti itu hal yang normal. Kelakuan aktif bisa menyebabkan konflik antara orang tua dan anak dan mungkin membuat orangua cemas. Juga bisa menimbulkan masalah bagi orang lain yang mengawasi anak seperti itu, termasuk guru.

Menentukan apakah derajat aktivitas seorang anak luar biasa tinggi adalah abnormal sebaiknya tidak bergantung pada bagaimana toleransi orang yang jengkel. Tetapi, beberapa anak secara jelas lebih aktif daripada rata-rata. Jika derajat aktivitas tinggi digabungkan dengan perhatian pendek dan impulsif, mungkin ditetapkan sebagai hiperaktif dan dianggap sebagai bagian ADHD.

Mencaci-maki dan menghukum anak yang derajat aktivitas tingginya dalam batas normal biasanya bisa meledak, menambah derajat aktivitas anak. Menghindari situasi dimana anak mesti duduk diam dalam waktu lama atau menemukan seorang guru trampil untuk anak seperti itu mungkin menolong. Jika ukuran sederhana tidak menolong, kedokteran atau psikologis evaluasi mungkin berguna untuk mengesampingkan kekacauan seperti ADHD.

PENGOBATAN

Untuk meminimalisir efek ADHD, struktur, rutinitas, rencana intervensi sekolah, dan teknik pengasuhan yang dimodifikasi sering diperlukan. Beberapa anak yang tidak agresif dan yang datang dari lingkungan rumah stabil dan lingkungan rumah yang mendukung mungkin lebih berguna dengan pengobatan obat sendiri. Terapi kelakuan yang diadakan oleh seorang psikolog anak kadang-kadang digabungkan dengan pengobatan obat. Obat Psikostimulan adalah pengobatan obat yang paling efektif.

Methylphenidate adalah obat psikostimulan yang paling sering diresepkan. Obat ini seefektif psikostimulan lain (seperti dextroamphetamine) dan mungkin lebih aman. Sejumlah obat bentuk lepas lambat (beraksi lebih panjang) methylphenidate bisa dijumpai disamping bentuk biasa dan dapat diminum satu kali sehari. Efek samping methylphenidate seperti gangguan tidur, seperti insomnia, menekan selera makan, depresi atau kesedihan, sakit kepala, sakit perut, dan tekanan darah tinggi. Semua efek samping ini hilang jika obat dihentikan; tetapi, kebanyakan anak tidak mempunyai efek samping kecuali barangkali selera makan yang berkurang. Tetapi, jika dosis besar diminum dalam jangka waktu yang lama, methylphenidate sekali-sekali bisa memperlambat pertumbuhan anak; oleh karena itu, dokter mengamati berat badan anak.

Sejumlah obat lain bisa dipakai untuk mengobati gejala kurangnya perhatian dan prilaku. Seperti clonidine, amphetamine – obat dasar, obat antidepresi, dan obat anti ansietas. Kadang-kadang, kombinasi obat digunakan.

PENCEGAHAN

Prognosis

Anak dengan ADHD secara umum tidak menjadi terlalu besar kurangnya perhatian mereka, walaupun mereka dengan hyper-aktivitas cenderung untuk menjadi agak lebih tidak impulsif dan hiper-aktif dengan usianya. Tetapi, kebanyakan remaja dan orang dewasa belajar menyesuaikan diri terhadap kurangnya perhatian mereka. Masalah lain yang muncul atau menetap di masa remaja dan kedewasaan termasuk prestasi akademis yang buruk, rendah penghargaan terhadap diri sendiri, kegelisahan, depresi, dan kesukaran dalam mempelajari prilaku sosial yang pantas. Penting, mayoritas anak itu dengan ADHD menjadi orang dewasa produktif, dan orang dengan ADHD kelihatannya menyesuaikan diri lebih baik bekerja daripada situasi sekolah. Tetapi, jika kekacauan tak diobati di masa kecil, risiko penyalahgunaan alkohol atau bahan lainnya atau bunuh diri mungkin meningkat.

raden kartika

2pa 03

10508180

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: